Make your own free website on Tripod.com
Terbekahilah Dikau Ibu
oleh
UP Dharma Mitra (Peter Lim)



       Di dalam menutupi tahun 1999 dan memasuki millenium baru, kembali kita mengenang satu peristiwa yang sangat penting yaitu HARI IBU yang tepatnya jatuh, pada tanggal 22 Desember. Ibu memegang peranan yang sangat terhormat, di dalam agama Buddha. Seorang Ibu dianggap sebagai suatu tangga, untuk ke surga dan seorang istri, dianggap sebagai sahabat karib dari sang suami (Parama sakha). Ibu adalah lambang cinta kasih, yang memberi dan tanpa pamrih. Didalam kitab kitab kuno dikatakan bahwa seorang guru agama adalah sebanding dengan sepuluh guru biasa. Seorang ayah sebanding dengan seratus guru agama, sedangkan seorang ibu sebanding dengan seribu orang ayah. Mengapa seorang ibu sangat disanjung oleh para guru zaman dulu…? Karena ibu selalu memberikan miliknya yang paling berharga, melupakan diri sendiri dan memperhatikan kesenangan serta kebahagiaan anak anaknya saja. Dia rela menghabiskan harta yang diperoleh dengan susah payah, demi pendidikan anak anaknya. Sungguh tak terbayangkan, kesulitan seorang ibu sewaktu membesarkan anak anaknya. Dia akan menderita, bila anak anaknya sakit dan bahagia bila anak anaknya sehat. Baginya, anak adalah harta yang tak ternilai harganya. Anak merupakan sumber suka dan duka. Tanpa anak, baginya hidup ini akan sepi, sedih dan menderita. Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat 10 jenis perbuatan baik, yang telah kita terima dari seorang Ibu, yang berhati mulia. Sepuluh jenis perbuatan baik itu adalah :

  1. Kebaikan didalam memberikan perlindungan dan penjagaan, selama kita dalam kandungan.
    Begitu si Ibu mengetahui bahwa dia telah hamil, maka semua kesenangan kesenangan, dia lepaskan. Dia tidak akan pernah lagi keluyuran, kesana-kemari. Kehidupannya, dia jaga dengan baik. Semua yang dimakan, terkontrol dengan baik akan kadar gizinya, dengan hanya satu pengharapan, yang tulus dan ikhlas, "Semoga anaknya terlahir dalam keadaan sehat dan kuat ". Apa yang menjadi kesukaannya, langsung dia hentikan seketika. Tiap hari, dia selalu berdoa, "Semoga anakku selalu dilindungi dan diberkahi oleh Sang Triratna (Sang Buddha, Dharma dan Sangha) ".

  2. Kebaikan menanggung derita selama kelahiran.
    Setelah sampai pada hari "H"nya (melahirkan), ibu berjuang dengan begitu beratnya. Dimana darah segar mengalir demikian derasnya, disaat mengawali kelahiran kita. Ada yang mengibaratkan bahwa melahirkan itu, separuh "nyawa" berada di peti mati dan separuh lagi, di tempat tidur. Demikian besar pengorbanan yang diberikan. Diantara sadar dan tidak, di dalam menahan rasa sakit yang luar biasa, ibu masih mampu tersenyum, begitu melihat kita lahir, dengan sehat dan selamat.

  3. Kebaikan melupakan semua kesakitan begitu kita lahir.
    Begitu mendengar tangisan kita yang lucu dan mengesankan, seketika itu juga, ibu melupakan semua derita yang dia dialaminya. Dia tersenyum bangga dan terharu, melihat kerupawanan serta kelucuan buah hatinya. Mulai saat dan detik itu, dia memakai sebutan "Ibu" ! Tiada lagi rasa sakit yang menyelimuti pikirannya. Baginya, semuanya menjadi serba indah dan menakjubkan. Di hati sanubarinya yang terdalam, dia bersyukurdan& berucap : " Oh, Sang Buddha terima kasih atas berkahan dan lindungan yang telah Kau curahkan…"

  4. Kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis buat kita.
    Seorang ibu akan selalu memberikan yang terbaik buat kita dan kebanyakan sisa sisa yang tidak diinginkan lagi, barulah dia makan. Ibu tidak akan pernah menceritakan kekurangan/ kelaparan yang dia dialami. Baginya, anaklah yang harus berkecukupan serta tumbuh dengan baik.

  5. Kebaikan memindahkan kita ke tempat yang kering dan dirinya sendiri di tempat yang basah.
    Tempat yang bisa memberikan kehangatan dan kesejukan, akan selalu dia berikan kepada kita. Dia tidak akan pernah mencari penghiburan dan kehangatan, bagi dirinya sendiri. Semua tindakan tindakannya, hanya demi kehangatan kita dan selalu diiringi dengan perasaan, yang tulus dan ikhlas.

  6. Kebaikan menyusui dan memberikan makan serta memelihara kita.
    Ibu yang baik bagaikan bumi yang besar dan ayah yang tegar, laksana langit yang mengasihi. Satu melindungi atas dan lainnya, menunjang dari bawah. Ibu akan tetap mencintai dan mengasihi kita, walaupun lahir lumpuh atau kurang menguntungkan, misalkan : bodoh, jelek atau sakit sakitan. Dia akan selalu memelihara, menjaga dan melindunginya, sampai akhir dari kehidupannya.

  7. Kebaikan membersihkan yang kotor.
    Walaupun memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang indah, ibu tidak akan segan segannya, memegang dan membersihkan kotoran. Dia rela mengorbankan kecantikan dan bahkan badan jasmaninya, hanya demi diri kita. Semangatnya senantiasa bergelora dan teguh, walaupun berada di kondisi yang kurang menyenangkan.

  8. Kebaikan selalu memikirkan kita bila berjalan jauh.
    " Piyehivippayoga dukkha : berpisah dengan yang dicintai adalah derita" demikianlah sifat mulia dari seorang ibu. Dia akan selalu merenung dan merenung.

    1. Apakah anakku sudah makan…?
    2. Selamatkah dia…?
    3. Sudahkah dia mandi…?
    4. Kapankah dia akan kembali…? dan seterusnya….

    Dari pagi hingga malam, pikirannya selalu tertujukan kepada diri kita, yang jauh dimata, adakalanya, air matanya berderai merenungkan kesedihan ini.

  9. Kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian.
    Karena begitu dalamnya kasih sayang yang dicurahkan, seorang ibu akan selalu was was (cemas). Cemas dan perasaan was was nya, hanya satu yaitu ,kepada kesehatan dan kebahagiaan kita. Bila dia mengetahui kita bekerja berat, dia akan merasa tidak senang. Bila kita sakit maka dia akan menderita sekali. Hidupnya selalu khawatir akan keselamatan dan kesejahteraan kita.

  10. Kebaikan dari rasa welas asih yang dalam dan simpati.
    Sifat lemah lembutnya tidak akan pernah berakhir. Di awal dini hari sampai larut malam, pikirannya hanya difokuskan kepada diri kita. Seandainya dia bisa hidup ratusan tahun lamanya, kekhawatirannya terhadap kita tidak akan pernah memudar, dan bahkan sampai akhir dari kehidupannya.


Demikianlah sepuluh jenis kebaikan, yang telah kita terima dari seorang ibu. Adakah cara untuk membalas jasa jasa kebaikannya…? Ada ! Yaitu mencegah dia berbuat jahat, menganjurkan dia berbuat baik dan menjadi teladan untuk hidup yang baik dan bersusila. Oleh karena itu, sebagai seorang anak yang berbhakti maka sudah seharusnya kita, mendengar dan patuh kepada nasehat nasehatnya. Sang Buddha menyabdakan bahwa Ibu adalah sahabat yang terbaik di rumah. Kemudian apakah akibatnya, jika kita melupakan jasa jasa mulia ibu, yang telah mengasuh kita dengan penuh kasih sayang…? Didalam Sonanda Jataka dikatakan, jika seorang anak berani menipu ibu, apakah yang akan diperolehnya, selain daripada NERAKA…? Di dalam agama Buddha, ibu merupakan salah satu dari 4 (empat) ladang kebajikan yang tersubur, untuk menyemai/menimbun Karma karma (perbuatan perbuatan) baik. Orang yang semasa hidupnya sangat mencintai, menyayangi dan melindungi serta merawat ibunya, akan senantiasa hidup dengan penuh kebahagiaan dan kesejahteraan. Dan sebaliknya, jika hidupnya selalu menyakiti dan membuat penderitaan, bagi ibunya maka setelah kematiannya, tiada alam lain yang akan di diami, selain dari pada alam neraka. Anak yang durhaka terhadap ibunya, tidak akan pernah menikmati kebahagiaan, baik di kehidupan ini maupun mendatang. Sang Buddha menyabdakan :""Bila seseorang tidak berbhakti (mencintai, melindungi dan memelihara) ibunya maka ketika hidupnya berakhir dan badannya membusuk, dia akan jatuh ke dalam Neraka Avici yang tak terbatas. Neraka yang besar ini dikelilingi oleh delapan puluh ribu yojana dan juga dikelilingi oleh dinding dinding besi, pada ke empat sisinya. Diatasnya ditutup oleh jaring jaring dan lantainya juga dibuat dari besi, api akan membakar dengan berkobar kobar, sementara itu petir bergemuruh dan sambaran kilat yang berapi api akan membakar. Perunggu yang cair dan cairan besi akan disiramkan ke atas badan orang orang yang bersalah ini. Anjing anjing perunggu dan ular ular besi, terus menerus memuntahkan api dan asap, yang membakar orang orang bersalah dan memanggang badan dan lemaknya, hingga menjadi bubur.
Oh, penderitaan yang hebat ! Sukar menahankannya, sukar menanggungnya ! Ada galah yang mengait, mengait, lembing lembing, tombak tombak besi dan rantai rantai besi, pemukul pemukul dari besi dan jarum jarum besi. Roda roda dari pisau besi bagai hujan dari udara. Orang yang bersalah itu dicincang, dipotong atau ditikam dan mengalami hukuman hukuman yang mengerikan ini selama ber kappa kappa lamanya dan tiada henti hentinya. Kemudian mereka memasuki neraka neraka berikutnya, dimana kepala mereka akan ditutupi dengan m angkok mangkok yang panas sekali, sedangkan roda roda besi akan menggilas badan mereka secara mendatar dan tegak lurus, sehingga perut mereka pecah dan daging serta tulang tulangnya menjadi lebur. Dalam satu hari, mereka mengalami beribu ribu kelahiran dan kematian. Penderitaan penderitaan yang demikian adalah akibat melakukan kelima perbuatan jahat (membunuh ayah, ibu, arahat, melukai Sang Buddha dan memecah belah Sangha (persaudaraan bhikkhu bhikkhuni) dan karena tidak berbhakti selama seseorang masih hidup"
.

Semoga di Hari Ibu yang ke 71 ini, akan senantiasa menyadarkan kita semua, untuk mau dan senang melakukan perbuatan perbuatan baik, yang sudah seharusnya diperbanyak. Dirgahayu Ibu dan Semoga Sang Triratna (Sang Buddha, Dharma dan Sangha) selalu memberkahi Ibu, kapan dan dimanapun berada…! Semoga Ibu senantiasa panjang usia, sehat dan berbahagia serta berkenan memaafkan atas kesalahan kesalahan yg telah kami perbuat, baik disengaja maupun tidak.
Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - Sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia…Sadhu…., sadhu…, sadhu….




Kebijaksanaan
Terbekahilah Dikau Ibu
Perdukunan
Jangan Lari Dari Kenyataan
Terpujilah Dikau Pahlawanku
Jalan Kebahagiaan

Kebajikan
Jadilah Manusia Yang Berani Hidup
Kebaktian Dan Manfaatnya
Alam Neraka
Masih Terpenjarakah Kita
Index