Make your own free website on Tripod.com
Jangan Lari Dari Kenyataan
oleh
UP Dharma Mitra (Peter Lim)



       "Orang suci selalu berbahagia, yang bathinnya telah bebas sepenuhnya, yang tidak dikotori oleh keinginan inderawi. Ia senantiasa tenang dan bebas dari kemelekatan." Samyutta Nikaya I : 212
Dikarenakan kuatnya belenggu duniawi menggari bathin ini, maka kita tidak mampu menolak kenyataan-kenyataan yang terjadi dan senantiasa menuntut keinginan keinginan, yang adakalanya diluar dari kewajaran. Wujud dari kenyataan kenyataan yang tidak diharapkan tersebut, pada umumnya adalah gagal disetiap usaha yang ditekuni, gagal meraih ambisi yang dicita-citakan, gagal mendapatkan penghormatan (penghargaan) dan gagal meraih kebahagiaan. Bagi segelintir orang-orang, yang tidak mampu menerima kenyataan kenyataan ini, maka akan meng"halal"kan beraneka cara, yang baik maupun buruk, agar sesegera mungkin terbebaskan, dari kondisi yang menyakitkan ini. Faktor apakah yang menyebabkan, seseorang sampai tidak mampu menerima kenyataan-kenyataan ini…? Avijja (kebodohan) lah penyebab utamanya. Kebodohan dalam hal ini, adalah bermakna tidak mampu menerima atau menyadari kesunyataan kesunyataan (kebenaran), yang pasti terjadi dan berlaku di alam semesta ini. Didalam kitab suci Anguttara Nikaya IV : 157, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat Lokadhamma 8 Didalam kitab suci Anguttara Nikaya IV : 157, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat Lokadhamma 8 (8 macam kondisi kebenaran), yang berlaku di alam semesta (dunia) ini. Kedelapan kondisi kebenaran ini, jika dimengerti dan disadari dengan baik, akan mencegah diri kita, agar tidak meng"halal"kan segala cara, untuk menuntaskan permasalahan, yang bagaimanapun juga. Terhindarinya diri kita dari cara meng"halal"kan segala cara, untuk mengatasi setiap permasalahan maka tindakan tindakan yang umumnya bersifat destruktif (penghancuran), akan bisa dicegah. Bebasnya diri kita dari tindakan-tindakan yang sifatnya destruktif maka jeratan atau liang "dukkha : derita", tidak akan berpeluang menghampiri kehidupan kita. Berhasilnya diri kita terbebaskan dari jeratan atau liang "dukkha : derita", itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Adapun bagian dari Lokadhamma 8, yang sudah seyogianya dimengerti dan disadari, agar terbebas dari lautan derita adalah :

  1. Labha : keuntungan.
    Keuntungan…? Siapapun orangnya, pasti mengharapkan dan mendambakannya. Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan : "Apabila rajin bekerja, tidak ceroboh, pandai mengelola, mencukupi kehidupan dengan wajar; seseorang niscaya dapat merawat dan bahkan melipat gandakan kekayaannya". Itulah syarat yang harus dipenuhi agar meraih keuntungan. Dan disisi sebaliknya, Sang Buddha juga menyabdakan : " " Lebih baik tidak mendapat untung, namun sesuai dengan Dharma (kebenaran), daripada mendapat untung tetapi melanggar Dharma (kebenaran)". Berdasarkan pada sabda Sang Buddha ini, ditegaskan pula bahwa keuntungan yang berhasil diraih, jika diluar dari jalur kebenaran maka akan menimbulkan penderitaan yang berlarut larut. Kalau demikian halnya, untuk apa keuntungan tersebut berhasil diraih, jika hidup ini dicekam oleh perasaan was was, ketakutan dan cemas…? Jadi, raihlah keuntungan itu, hanya melalui jalur yang benar, misalnya : melalui kerajinan, ketelitian, hidup sederhana dan sewajarnya saja, yang tanpa sedikitpun, melanggar rambu-rambu kebenaran. Dengan berpedoman pada jalur ini, maka yang namanya kebahagiaan akan senantiasa menyertai diri kita, dan kapan serta dimanapun berada, kita akan senantiasa dihormati dan dihargai. Selanjutnya, Sang Buddha menyabdakan : " Segala keuntungan berada pada dua hal yaitu mendapatkan sesuatu yang belum didapat dan merawat sesuatu yang telah didapat".

  2. Alabha : kerugian.
    Kalau keuntungan selalu didambakan, maka yang namanya kerugian adalah sesuatu yang ditabukan. Sang Buddha menyabdakan : "Gemar tidur, suka berpelesir, tak mau bekerja, bermalas malasan dan maunya hanya uring uringan serta serampangan adalah muara kemerosotan".Dengan berpedoman pada sabda Sang Buddha yang tertera diatas, kita disadari untuk senantiasa rajin dan semangat, agar kerugian bisa dihindari atau dicegah sedini mungkin. Kerugian dalam hal apapun, tidaklah di inginkan oleh siapapun juga. Agar kondisi (kemalangan) yang kurang menguntungkan ini, tidak semakin memburuk dimasa mendatang maka sadari juga bahwa kondisi ini adalah sesuatu yang lumrah (bisa saja terjadi) bagi siapapun juga. Ibarat curahan matahari, disuatu saat kita diterangi dan disaat yang lain, kita berada dalam kegelapan. Sadari pula bahwa di jalur keduniawian bahwa tidak ada suatu makhlukpun, yg bisa terbebaskan dari kondisi yang kurang menguntungkan ini. Dengan menyadari hal ini maka tindakan tindakan tercela sebagai kompensasinya, bisa di elakkan atau dicegah sedini mungkin. Bebasnya diri kita dari tindakan tindakan tercela, itulah kebahagiaan.


  3. Yasa : memiliki kekuasaan.
    Salah satu dari empat hal (kerupawanan, usia panjang, kebahagiaan kekuatan/kekuasaan) yang selalu di dambakan oleh manusia adalah kekuasaan. Dengan dimilikinya kekuasaan maka apa yang telah dicita citakan, akan semakin mudah direalisasikan. Dan janganlah sampai terjadi, dengan kekuasaan yang telah dimiliki, kita memperdaya dan menyengsarakan pihak lain, yang hanya untuk memenuhi ambisi semata-mata atau balas dendam. Hanya orang orang yang bodoh lah, yang akan memanfaatkan kekuasaannya, hanya untuk memenuhi ke EGOIS an dan nafsu inderanya. Para bijaksanawan tidak akan pernah memanfaatkan kekuasaannya untuk memuasi nafsu nafsu inderanya, kekuasaan yg telah dimiliki, hanya akan dimanfaatkan pada jalur yang benar saja, yang mana pasti akan memberikan dampak positif bagi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk. "Sebagaimana diri kita, demikian pula makhluk lain. Sebagaimana makhluk lain, demikian pula diri kita. Dengan memikirkan mereka dan memperbandingkan mereka, tidak seharusnya kita saling membunuh atau menyebabkan pembunuhan. Demikianlah yang telah disabdakan oleh Sang Buddha. Jadi, pada kenyataannya adalah pemanfaatan kekuasaan yang berdampak negatif bagi pihak lain, sebenarnya akan menimbulkan efek negatif yang jauh berat terhadap diri sendiri. Mengapa…? Ibarat menanam "sebuah" tanaman maka di suatu hari kelak, akan memberikan hasil lebih dari "sebuah". Itulah salah satu contoh nyata dari adanya niat jahat dan perbuatan jahat, yang ditujukan kepada siapapun juga. Si pelaku akan menerima akibat yang jauh lebih berat, dari apa yang telah diperbuat. Akhirnya, sadarilah bahwa kekuasaan yang berhasil dimiliki, bukanlah semata-mata karena kemampuan atau keahlian yang dimiliki tetapi tidaklah terlepas karena adanya dukungan dari pihak lain. Berdasarkan pada fakta kebenaran ini, manfaatkanlah kekuasaan tersebut, hanya pada jalur yang benar dan berguna bagi makhluk lain.

  4. Ayasa : tidak memiliki kekuasaan.
    Sesungguhnya, kekuasaan bukanlah merupakan segala galanya di dalam kehidupan ini. Mengapa demikian…? Bagi yang berkemampuan dan bisa mandiri, dengan dimilikinya kekuasaan atau tidak adalah hal nomor dua. Selagi dia mampu berkreasi & memotivasi diri sendiri, ke arah yang bermanfaat maka baginya, diberikan atau tidak, kekuasaan bukanlah prioritas utama. Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan : "Vaso issariyam loke : kekuasaanlah yang terbesar di dunia ini". Makna dari sabda Sang Buddha, bukanah berarti bahwa kekuasaan yang terbesar adalah kekuasaan yang bisa menguasai orang lain, tetapi adalah kekuasaan yang bisa menguasai diri sendiri. Pada umumnya, kita tidak berkuasa pada diri sendiri. Contoh yang paling nyata adalah mau makan saja, waktu tidak mencukupi dan begitu juga dikala istirahat, masih saja mengerjakan hal hal yang sifatnya duniawi. Tetapi jika kita telah memiliki kekuasaan atas diri sendiri maka apapun yang hendak diperbuat, akan semakin membara dan semangat. Jadi, sebelum meraih kekuasaan duniawi, milikilah terlebih dahulu kekuasaan atas diri sendiri. Jika gagal meraih kekuasaan duniawi, janganlah terlalu dirisaukan karena semuanya itu, tidaklah menjamin kebahagiaan. Tetapi jika gagal meraih kekuasaan atas diri sendiri, itulah yang harus diwaspadai.
    Gagal meraih kekuasaan atas diri sendiri, akan membuat diri kita terbebas dari kendali sehingga akhirnya terjerumus ke lautan derita, sebagai hasil dari tindakan tindakan tercela yang diperbuat.


  5. Pasamsa : terpuji dan terhormat.
    Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan : "Seseorang tidaklah hina karena kelahiran, tidak juga kelahiran menjadikan seseorang suci. Hanya perbuatan yang membuat orang menjadi rendah, hanya perbuatan yang membuat seseorang menjadi suci". Berdasarkan pada sabda Sang Buddha ini, jika ingin dipuji dan dihormati maka kunci utamanya, hanyalah satu yaitu milikilah perbuatan perbuatan baik yang sebanyak banyaknya. Perbuatan perbuatan baik dalam hal ini adalah perbuatan perbuatan yang tidak berdampak (menimbulkan) penderitaan bagi makhluk lain dan malahan kebahagiaan serta kesejahteraan. Agar perbuatan bisa terawat dan terjaga dengan baik maka milikilah sila (moral) yang baik. Sila (moral) yang baik tersebut adalah:

    1. menghindari segala bentuk penganiayaan, penyiksaan dan bahkan pembunuhan, dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga.
      Bagaimana caranya…? Yaitu dengan mengembangkan cinta kasih yang sifatnya universal, yang telah terbebaskan dari unsur kemelekatan akan ras, agama, bahasa dan status sosial.

    2. menghindari mengambil sesuatu yang tidak diberikan (mencuri), dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga.
      Bagaimana caranya…? Yaitu dengan menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran, disetiap aspek dari kehidupan ini.

    3. menghindari segala bentuk perbuatan asusila (perzinahan), dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga.
      Dalam hal ini, tidak ada suatu alasan pun, yang bisa dibenarkan bahwa perbuatan tersebut tercetuskan karena terpaksa, terlanjur basah (telah dijebak atau dibohongi oleh lawan jenis) atau tiadanya profesi lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Agar terhindari dari perbuatan ini maka milikilah pengendalian diri sedini mungkin, selain mengembangkan kejujuran dan kesetiaan. Pengendalian diri dalam hal ini adalah mengendalikan (mengontrol) nafsu indera ke hal hal yang baik .

    4. baik menghindari kata kata dusta dan tidak bermakna, dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga.
      Bagaimana caranya…? Yaitu dengan selalu berpedoman pada 4 (empat) syarat dari ucapan benar. Ke empat syarat tersebut adalah kata kata tersebut memang benar, beralasan, bermanfaat serta tepat pada waktunya diutarakan.

    5. menghindari meminum dan memakan sesuatu, yang mana bisa menyebabkan hilangnya kesadaran diri, dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga.
      Tidaklah bijaksana, baru timbul keyakinan yang baik, setelah segala sesuatu dicoba, misalnya : baru yakin bahwa ekstasi, obat yang sangat berbahaya bagi kesehatan setelah mencobanya. Atau timbul keyakinan yang baik setelah mencicipi narkotik, meminum minuman beralkohol tinggi dan lain sebagainya. Jika kondisi ini sampai terjadi, inilah yang disebut dengan kebodohan…? Agar terhindari dari minuman dan makanan, yang mana bisa menyebabkan hilangnya kesadaran (mabuk mabukan) maka milikilah sedini mungkin kewaspadaan dan perhatian yang baik. Didalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa orang yang waspada adalah orang yang hidup sedangkan orang yang tidak waspada adalah orang yang kelihatannya hidup tetapi sesungguhnya sudah mati. Jadi, dengan dimilikinya ke lima (tidak membunuh, mencuri, berzinah, berdusta dan bermabukan) pedoman ini maka sila (moral) kita akan terawat dengan baik, yang mana secara tidak langsung akan menuntun perbuatan perbuatan kita ke arah yang baik pula. Jadi, bisa disimpulkan bahwa terpuji dan terhormatnya seseorang, sangatlah ditentukan oleh perbuatan perbuatannya. Semakin baik perbuatan perbuatannya maka akan semakin terpuji dan terhormatlah kedudukannya, dan begitu juga sebaliknya.


  6. Ninda : tercela.
    Di dalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan : "Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketidaksucian adalah milik masing-masing. Tak seorangpun dapat menyucikan orang lain".
    Tercela tidaknya hidup seseorang, sangatlah ditentukan oleh apa yang diperbuat. Perbuatan jahat yang diperbuat, maka tercelalah kehidupan seseorang. Ibarat kertas putih yang polos, jika ditumpahi oleh setetes tinta maka akan ternoda kebersihannya. Setetes tinta, itulah perumpamaan dari perbuatan jahat (noda) sedangkan kertas putih adalah diri kita. Berdasarkan pada fakta kebenaran ini jika mengharapkan suatu kehidupan, yang bebas dari celaan maupun hinaan maka cegah dan hindarilah sedini mungkin, perbuatan perbuatan yang tidak baik. Perbuatan yang tidak baik dalam hal ini adalah perbuatan yang mana setelah dilaksanakan, menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan, baik bagi diri sedniri maupun pihak lain. " Apapun perbuatan yang dilakukan, dengan tindakan, ucapan ataupun pikiran; itulah yang menjadi kekayaan miliknya, yang dibawanya serta." Samyutta Nikaya, Sagathavagga 392.

  7. Sukha : kebahagiaan.
    "Orang suci selalu berbahagia, yang bathinnya telah bebas sepenuhnya, yang tidak dikotori oleh keinginan keinginan inderawi. Ia senantiasa tenang dan bebas dari kemelekatan."
    Samyutta Nikaya I : 212. Kebahagiaan yang umumnya kita rasakan adalah kebahagiaan yang sifatnya semu dan sesaat, dan bukanlah kebahagiaan yang hakiki (sesungguhnya). Mengapa…? Karena masih diliputi atau dicengkram oleh unsur keduniawian. Apa buktinya…? Buktinya adalah kita akan bahagia jika keinginan keinginan kita terpenuhi. Misalnya : pingin baju, tas, mobil, rumah dan lain sebagainya dan jika dipenuhi, timbul kebahagiaan tetapi jika ditolak maka sebaliknya yang dirasakan. Tetapi jika kebahagiaan tersebut timbul karena telah terbebas dari ikatan (kemelekatan), maka wujud dari kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang hakiki. Contoh dari kebahagiaan yang hakiki adalah tidak terpengaruh bathinnya, apakah dikala diberikan atau tidak, dipenuhi atau tidak, dipuja atau tidak, disanjung atau tidak, dan lain sebagainya. Jadi bisa disimpulkan bahwa bebas dari segala bentuk ikatan/ kemelekatan, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

  8. Dukkha : derita.
    Walaupun Sang Buddha menyabdakan bahwa hakekat dari kehidupan ini, diliputi oleh " dukkha : derita", bukanlah berarti "sukkha : kebahagiaan" tersebut sudah tidak ada. Makna dari sabda Sang Buddha ini adalah ingin menyadarkan kepada kita semua, bahwa semakin kuat kemelekatan diri kita akan keduniawian, maka akan semakin kuat pula "dukkha : derita" mencengkram bathin kita. Kemelekatan akan keduniawian, dengan salah satu dari wujudnya, misalnya : meng"halal"kan segala cara untuk memenuhi segala ambisi (ke egois an) adalah merupakan faktor utama, terjerumusnya diri kita ke lautan derita. Oleh karena itu, agar terbebas dari kondisi yang sangat tidak menguntungkan ini, hindarilah kemelekatan sedini mungkin, melalui ""dana paramita : beramal"" serta juga sirnakan" byapada : niat jahat", dalam kondisi dan keadaan yang bagaimanapun juga. Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan : " Apabila telah terlanjur berbuat jahat, seseorang hendaknya tidak mengulangi kejahatan itu. Jangan pula membangkitkan kepuasan atas kejahatan itu. Sebab, penimbunan kejahatan, akan mengakibatkan penderitaan". Jadi, hanya dengan membebaskan diri dari aneka ragam perbuatan jahatlah, derita tersebut akan bisa ditebas habis, sampai ke akar akarnya. " Janganlah berbuat jahat meski hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup." demikian ditegaskan oleh Sang Buddha.


    KESIMPULAN :
           Lokadhamma 8 (8 kondisi kebenaran) yang terdapat di alam semesta ini, haruslah dimengerti dan disadari dengan baik, agar kita tidak sampai terjerumus ke perbuatan perbuatan tercela. Bebas dari perbuatan perbuatan tercela, itulah kebahagiaan. Adapun yang seharusnya disadari dan dimengerti dengan baik adalah :

    1. jika meraih keuntungan, manfaatkanlah keuntungan tersebut, bukan hanya sebatas diri sendiri, tetapi juga kepada pihak lain yang memerlukannya, tanpa adanya unsur diskriminasi akan ras, agama, bahasa maupun status sosial.

    2. jika gagal meraih keuntungan (rugi), janganlah terlalu disesalkan. Yakinilah hakekat dari kebenaran bahwa tidaklah selamanya keadaan (kondisi) yang dialami, berada dalam situasi gelap atau terang. Selagi ada usaha maka disanalah terdapat jalan.

    3. jika memiliki kekuasaan (terkenal), janganlah jadi sombong dan apalagi sampai menggunakan kekuasaan tersebut, untuk menghancurkan pihak lain.

    4. Sadarilah dengan sebaik baiknya bahwa kekuasaan yang berhasil diraih, tidaklah terlepas dari dukungan atau sokongan pihak lain. Tanpa adanya dukungan atau sokongan pihak lain, akankah kita berkuasa….? Jadi, manfaatkanlah kekuasaan tersebut hanya pada tempatnya, dalam arti kata, dimanfaatkan hanya demi kebahagiaan dan kesejahteraan makhluk hidup.

    5. jika gagal meraih kekuasaan (tersisih), janganlah kecewa. Berusahalah dengan penuh semangat dan rajin. Jika pengertian ini telah dimiliki maka di suatu hari kelak, apa yang telah di cita citakan, akan dapat direalisasikan. Walaupun telah berusaha dan tetap juga tidak berhasil, janganlah sampai lupa bahwa karma masa lalupun, cukup berperan menentukannya. Oleh karena itu, janganlah patah semangat dan frustasi serta berdiam diri.

    6. jika hidup terpuji (terhormat), janganlah sampai terlena dan angkuh. Milikilah ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Ingat, tidaklah logis (pantas) jika kita sampai menyombongkan sesuatu, di kehidupan ini. Mengapa…? Karena semuanya itu adalah pinjaman semata mata dan tidaklah bisa dimiliki, untuk jangka waktu yang panjang. Buktinya…? Setelah kematian datang menjemput, apakah diinginkan atau tidak, kita harus melepaskannya.

    7. jika hidup dihina (dilecehkan) maka segeralah memperbaiki kekurangan kekurangan dan berusahalah selalu, untuk mau instropeksi diri. Jangan menyalahkan atau mengkambing hitamkan pihak lain, atas kemalangan kemalangan yang dialami. Semuanya bisa timbul, tidaklah terlepas dari akibat (hasil) perbuatan perbuatan kita yang terdahulu. Jika perbuatan kita dipenuhi oleh kebajikan maka penghormatanlah yang akan diterima, tetapi jika selalu diisi dengan kejahatan maka hinaan, celaan dan fitnahanlah, yang akan dirasakan.

    8. jika meraih kebahagiaan maka sadarilah dengan sebaik baiknya, bahwa kondisi ini bisa timbul, tidaklah terlepas dari banyaknya perbuatan perbuatan baik, yang telah diperbuat. Oleh karena itu, agar kebahagiaan ini bisa permanen atau meningkat kadarnya, senantiasalah menyemai dan menimbun kebajikan.

    9. jika gagal meraih kebahagiaan maka sadarilah dengan sebaik baiknya bahwa kondisi ini bisa timbul, tidaklah terlepas karena hasil (akibat) dari perbuatan perbuatan jahat, yang telah diperbuat dimasa sebelumnya. Dalam hal ini, tidak satu makhlukpun, yang logis (pantas) dipersalahkan. Agar kondisi yang tidak menguntungkan ini, tersirnakan sesegera mungkin, maka jauhilah perbuatan perbuatan jahat dan perbanyaklah kebajikan.


    Dengan dimilikinya pengertian benar akan Lokadhamma 8 ini, maka kita akan bisa menerima setiap kenyataan yang terjadi dan tidak akan menyalahkan siapapun juga, atas kemalangan atau kekurang-beruntungan yang terjadi. Mampunya diri kita menerima kenyataan kenyataan ini, adalah merupakan salah satu faktor atau alat (sarana), untuk meng"rem" diri kita, agar terbebas dari aneka ragam perbuatan perbuatan tercela. Bebas dari perbuatan perbuatan tercela, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Didalam sabdaNya, Sang Buddha menyabdakan : " Kebahagiaan dari nafsu kesenangan inderawi dan kebahagiaan dari berkah surgawi, belumlah sama dengan seperenambelas bagian, daripada kebahagiaan karena lenyapnya nafsu keinginan". Dengan menyadari kebenaran kebenaran ini dan dimilikinya pengertian yang baik, maka nafsu nafsu inderawi akan dapat dilenyapkan, sedini mungkin. Dan setiap perbuatan perbuatan baik yang akan dilakukan, tidak lagi diboncengi oleh unsur kefanatikan, kemunafikan dan ketololan. Semoga dengan disadarinya kenyataan kenyataan ini, kehadiran kita dapatlah hendaknya bermanfaat bagi kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan bagi semua makhluk hidup. Janganlah lari dari kenyataan dan hiduplah sesuai dengan kenyataan, yang bebas dari kekecewaan, kesedihan dan kefrustasian. Manusia yang sesungguhnya adalah manusia yang berani menghadapi kenyataan dan tidak akan pernah menghalalkan segala cara , untuk melampiaskan kegagalannya. Akhirnya, semoga kehadiran kita, disaat dan waktu yang tepat ini, dapatlah hendaknya berdaya guna bagi kesejahteraan dan kebahagiaan semua makhluk. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu - sabbe satta bhavantu sukhitata : semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia…sadhu,…sadhu,…sadhu…....




Kebijaksanaan
Terbekahilah Dikau Ibu
Perdukunan
Jangan Lari Dari Kenyataan
Terpujilah Dikau Pahlawanku
Jalan Kebahagiaan

Kebajikan
Jadilah Manusia Yang Berani Hidup
Kebaktian Dan Manfaatnya
Alam Neraka
Masih Terpenjarakah Kita
Index