Kebajikan
oleh
UP Dharma Mitra (Peter Lim)



       "Orang yang ber KEBAJIKAN terlihat dari jauh bagaikan gunung Himalaya, yang menjulang tinggi tetapi orang yang JAHAT, tak terlihat walaupun ia berada dekat dengan kita, bagaikan panah dilepaskan pada waktu malam", demikianlah sabda Sang Buddha.
Tujuan utama pembabaran Buddha Dharma yang diwartakan oleh Sang Buddha, kepada para dewa dan umat manusia adalah agar semua makhluk, terbebas dari "Kilesa : kekotoran bathin" yaitu melalui banyaknya kebajikan yang disemai/diperbuat. Pa-da dasarnya, bathin setiap manusia bagaikan selembar kertas putih yang polos, yang bebas dari noda maupun bercakan tinta. Indah kelihatannya tetapi nilainya, tidaklah seberapa. Dan jika kertas putih ini dipenuhi dengan aneka ragam lukisan atau gambar yang indah, maka akan menimbulkan suatu daya tarik dan secara otomatis, nilainya pasti akan muncul seketika. Tetapi jika sebaliknya yg diperbuat, misalnya dicemari dengan segumpal kotoran atau dikotori dengan noda noda yang tak beraturan, maka kehadirannya, pastilah tidak akan berguna lagi. Dan sudah pasti, nilainya pun akan sirna dan tidaklah berbeda dengan sampah. Demikian juga halnya dengan bathin kita, jika dicemari dengan aneka ragam perbuatan tercela, misalnya : membunuh, mencuri, berzinah, berbohong atau mengharamkan segala macam cara, untuk meraih apa yang didambakan, maka akan menyebabkan diri kita bagaikan sampah, yang istilah umumnya dikenal dengan sebutan "sampah masyarakat" (manusia manusia yang tercampak). Disisi selanjutnya, jika bathin ini dipenuhi dengan beragam perbuatan terpuji, misal-nya: berdana, berbhakti dan rela/ berani berko-ban demi kebahagiaan makhluk lain, maka akan menjadikan seseorang terhormat, tersegani, terhargai, dimanapun dia berada. Jadi bisa disimpulkan bahwa, kondisi apapun yang diperbuat, pasti akan menentukan corak bathin seseorang. Terhormat atau terhinanya seseorang, tidaklah terlepas dari diri sendiri.. Melalui apa yang diperbuat, itulah sebutan yg sesuai bagi diri seseorang.Sama halnya dengan kertas, yang pada awalnya putih polos serta tidak begitu berharga, akan mem-berikan makna (arti) atau tidak, sangatlah tergantung pada apa yang digoreskan/diperbuat diatas kertas tersebut. Demikian juga halnya dengan manusia, jika bathinnya dipenuhi dengan perbuatan perbuatan ter-puji, maka hidupnya akan terhormat dan bahagia, disamping bermakna (berarti) bagi semua makhluk hidup. Tetapi jika sebaliknya yang terjadi, dimana bathinnya selalu dicemari dengan beragam perbuatan tercela, maka hidupnya akan terhina dan menderita. Selanjutnya, Sang Buddha menyabdakan bahwa kemuliaan, kesucian, keagungan atau kebahagiaan yang berhasil dimiliki oleh seseorang, bukanlah semata mata ditentukan oleh faktor tubuh, wajah yang indah atau dari keturunan yang baik. Karma (perbuatan) apa yg diperbuat, itulah sumber utamanya. Bagi segelintir orang yang masih diliputi oleh jeratan jeratan keduniawian, akan berkomentar dengan lantangnya "Buat apa berbuat baik dengan segala macam pengorbanan, si A yang hidupnya selalu usil, kelihatan senang dan serba berkecukupan" Sesuatu yg luarnya nampak indah, bukanlah berarti indah pula dalamnya. Ibarat buah mangga yg indah luarnya, eeeeeh ternyata busuk dan berulat. Demikian juga halnya dengan manusia, bisa saja luarnya kelihatan senang dan gembira tetapi dalamnya, siapa yg tahu…? Dan sudah merupakan hukum alam, bahwa siapapun yg melakukan perbuatan jahat maka "pasti akan dicekam oleh salah satu perasaan yang tidak menyenangkan, misalnya : cemas, takut, frustasi atau kecewa.. Kalau kita sudah berada dalam kondisi ini, apakah masih bisa merasakan kegembiraan atau kesenangan yang sesungguhnya…? Bagi yang telah memiliki pengertian yang benar akan Buddha Dharma, maka tidak akan pernah lagi, untuk mau memulai atau melakukan perbuatan tercela, baik melalui pikiran, ucapan maupun tindakan badan jasmani. "Papanam Akaram Sukham : Sesungguhnya KEBAHAGIAAN itu datang dari hasil menjauhi KEJAHATAN '', demikianlah yang ditegaskan oleh Sang Buddha.
       Didalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat dua jenis Dharma (kebenaran), yang bisa memotivasi diri kita, untuk mau menyemai dan menimbun kebajikan. Kedua jenis dharma (kebenaran) tersebut adalah sati dan sampajanna. Sati dan Sampajanna adalah dua faktor yang akan mendukung atau memperkuat keyakinan diri kita, untuk senantiasa mau berbuat kebajikan tanpa adanya pemaksaan, pamrih ataupun maksud maksud tertentu. Dengan berpedoman pada sati dan Sampajanna, maka perbuatan baik yang dilakukan akan berjalan dengan mulus, serta sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan. Untuk jelasnya, marilah kita telusuri kedua jenis dharma (kebenaran) ini.

  1. SATI : PERHATIAN, KEWASPADAAN DAN INGATAN
    Sang Buddha menyabdakan : "Sati Sabbattha Patthiya : perhatian diperlukan dalam setiap kondisi dan tempat". Mengapa kita bisa bangun lebih awal, ikut kebhaktian, ingat janji yang telah diutarakan, melunasi utang tepat waktunya, belajar dengan sungguh sungguh dikala ujian, makan obat secara rutin dikala sakit dan seterusnya…? Semuanya bisa terlaksana dengan baik, tidaklah terlepas karena "sati: perhatian" yang dimiliki, masih stabil keberadaannya. Lawan dari Sati adalah lupa. Jadi konsekwensi (resiko) dari lemahnya sati (perhatian) adalah kehancuran, misalnya: dikala ada rapat penting, kita terlambat atau lupa menghadirinya, lupa melunasi utang, lupa makan atau berobat dan seterusnya. Selanjutnya, apakah yg bakal terjadi…? Semua bentuk kemalangan kemalangan yg tidak semestinya, pasti akan muncul kepermukaan. Jadi, sati (perhatian) selain bermanfaat agar kita terhindari dari perbuatan perbuatan yang tidak baik, juga bisa mencegah atau mengurangi diri kita, dari serangan serangan karma yang mungkin saja, akan matang disaat tersebut. Dengan dimilikinya sati (perhatian), kita tidak akan mudah terpedaya atau terdorong ke lembah dukkha (derita) sebagai akibat dari tindakan salah yang diperbuat. Disamping itu, sati juga akan mempe-teguh bathin kita, untuk senantiasa mau menyemai, menabur atau menanam kebajikan sebanyak banyaknya. "Na pa-ram napi atta-nam-Vihimsati sama hito : Orang yang BATHIN nya teguh, tidak akan MENGANIAYA orang lain maupun diri sendiri", demikianlah yg disabdakan oleh Sang Buddha. Satu hal yang pasti, bahwa sati yang telah terbina dengan baik, tidak akan mudah luntur dan hancur, walaupun sakit bertahun tahun, kurang makan, mengalami proses penuaan atau kematian yang datang menjelang. Tetapi bukanlah berarti bahwa sati yang telah terbina dengan baik, akan permanen keberadaanya didalam diri kita. Sati harus dibina terus menerus dan sekali kita lengah, maka sati akan rapuh dan mudah sekali mengalami kehancuran. Salah satu penyebab hancurnya Sati adalah jika kita terlena sehingga melanggar sila ke V dari Pancasila Buddhis, yang isinya adalah sebagai berikut: "Surameraya majja pama-da-tthana veramani sikha-padang samadiyami : Kami berjanji/bertekad untuk menghindari memakan atau meminum segala sesuatu, yang mana bisa menyebabkan hilangnya kesadaran diri (mabuk )". Dizaman yang serba praktis dan materialitis ini, apapun bisa dijumpai dan didapatkan, asalkan memiliki sejumlah materi. Disinyalir saat ini, minuman minuman yang berkadar alkohol rendah sampai yang tinggi atau obat obat penenang (terlarang) yang mana bisa membuat sipemakai "on/fly" seketika, adalah hal yang umum dijumpai atau didapatkan, di tempat tempat hiburan malam. Nach, bagi yang bathinnya tidak terbina dengan baik serta terbius akan nikmatnya (menurut pengakuan si bodoh yang telah mencoba) benda benda terlarang ini, akan segera memakainya. Pemakaian obat obat terlarang ini, akan mempercepat hancurnya sati. Dan bathin yang satinya telah hancur, akan mudah sekali terjerumus ke liang derita, sebagai akibat dari perbuatan perbuatan tercela yang dilakukan. Dikala mabuk atau istilah ngetopnya saat ini adalah lagi "on/fly", semua tindakan, baik melalui ucapan maupun tin-dakan badan jasmani yg sifatnya tercela adalah hal umumnya dijumpai. Dia tidak akan ada lagi rasa malu atau segan, untuk mau melakukan perbuatan perbuatan jahat, baginya berbicara kasar (jorok), mencuri, menyiksa, menipu dan bahkan membunuh adalah hal yang biasa. Sebagai akhir dari lemahnya sati adalah penderitaan yang berlarut larut dan akan jauh dari kebahagiaan. Didalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa salah satu cara agar sati ini terawat dengan baik adalah dengan menghindari orang bodoh (jahat). " Na bhaje papake mitte: Janganlah bergaul dengan teman yang jahat ", demikianlah yang selalu ditegaskan Sang Buddha. Bergaul dengan orang jahat, tiada manfaat yang bisa diraih, selain dari pada penderitaan yang berkesinambungan. Bergaul dengan orang jahat, sama ibaratnya dengan kertas wangi yang membungkusi kotoran busuk. Setelah kotoran tersebut dibuang maka sisa aroma busuknya, akan tetap melekat dikertas tersebut, disamping wanginya hilang.
           Singkatnya dikatakan, tiada manfaat sama sekali bergaul dengan orang jahat, selain dari pada penderitaan yang ditimbulkan. Selanjutnya, ditekankan pula bahwa sati akan semakin kuat keberadaannya di bathin kita, jika sering mempraktekkan meditasi (pemusatan pikiran pada suatu sasaran tertentu).

  2. SAMPAJANNA : MENYADARI
    Sampajanna dalam hal ini adalah menyadari dengan baik, apapun yang berlaku pada keseluruhan indera. Didalam agama Buddha kita mengenal enam indera kesadaran yang terdiri dari ;

    1. Cakkhu vinnana : kesadaran mata; timbul karena adanya kontak langsung antara mata dengan bentuk "rupa" yang berada di dalam jangkauan penglihatan.

    2. Sota Vinnana : kesadaran telinga; timbul karena adanya kontak telinga dengan bunyi bunyian atau suara.

    3. Ghana vinnana : kesadaran h-dung; timbul karena adanya kontak antara hidung dengan aroma atau wangi wangian (bau bauan).

    4. Jivha vinnana : kesadaram lidah; timbul karena adanya kontak antara lidah dengan rasa rasaan.

    5. Kaya vinnana : kesadaran badan jasmani ; timbul karena adanya kontak antara badan jasmani dengan sentuhan sentuhan.

    6. Mano vinnana : kesadaran pikiran; timbul karena adanya kontak antara pikiran dengan segala sesuatu (prihal) dan permasalahannya.

    Sampa-janna dalam hal ini adalah menyadari dengan baik, dikala melihat bathinnya sadar betul akan apa yang sedang dilihat, sehingga tidak sampai menimbulkan kemerosotan bathin. Disaat mendengar, apakah sesuatu yang sifatnya pujian atau gossip belaka, bathin harus sadar sepenuhnya akan makna dari suara tersebut, sehingga tidak sampai terperdaya, untuk emosi/marah. Begitu juga dikala mencium aroma, bathin harus senantiasa sadar akan apa yang tercium, sehingga tidak spontanitas mengeluarkan komentar yang tidak seyogianya dilontarkan. Disaat merasakan sesuatu, apakah manis, pahit, asin atau asam; bathin harus sadar akan hal ini. Selanjutnya dikala tubuh merasakan sentuhan, apakah yang lembut atau kasar; bathin harus menyadari akan maknanya. Kemudian, disaat pikiran berkreasi atau memutuskan suatu permasalahan, sadarilah apa yang seharusnya diputuskan, agar tidak menimbulkan kerugian di kedua sisi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Didalam kitab suci Patikavagga diuraikan empat ciri khas dari sampajanna, yang terdiri dari:

    1. Sadar akan manfaat dari perbuatan yang sedang dilakukan.
    2. Sadar bahwa perbuatan yang sedang dilakukan, sesuai atau tidak dengan diri sendiri.
    3. Sadar bahwa perbuatan yang sedang dilakukan, akan menimbulkan sukkha (kebahagiaan) atau dukkha (penderitaan).
    4. Sadar bahwa perbuatan yang sedang dilakukan, merupakan kebodohan atau kepandaian.

Jadi manfaat dari dimilikinya Sampajanna ini adalah agar kita sadar dan tidak terlena, akan apa yang berlangsung pada diri kita. Disaat memegang pisau, kita sadar akan apa yang sedang dipegang, sehingga tidak mencelakai orang lain atau diri sendiri. Disaat mengendarai mobil, kitapun harus sadar akan apa yang seharusnya diperbuat, sehingga tidak terjadi kecelakaan. Diceritakan pada masa kehidupan Sang Buddha, terdapat seorang umat yang sangat berbakti dan senantiasa menimbun kebajikan. Umat tersebut bernamaVisakha, seorang wanita yang telah divisudhikan menjadi seorang Upasika. Ia adalah pemimpin dari para upasika yang sangat berkeyakinan dan berbakti, terhadap Sang buddha. Dia telah berhasil mendirikan sebuah Vihara yang sangat indah, kemudian di persembahkan kepada Sang Buddha, sebagai wujud dari rasa cinta kasih dan bhaktinya. Pada waktu Vihara itu selesai di bangun, dia sangat bahagia dan gembira sekali. Diajaknya, anak dan cucunya berbaris rapi, berjalan mengelilingi Vihara sambil menyanyikan lagu lagu yang merdu sekali. Orang orang yang menyaksikan kejadian ini, sangat kagum dan terharu bathinnya. Kemudian mereka menceritakan kepada Sang Buddha, semua kejadian yang mengharukan tersebut. Berkenan dengan peristiwa ini, Sang Buddha bersabda : "Bagaikan sebuah karangan yang dirangkai dengan beraneka macam bunga, demkian pula halnya dengan KEBAJIKAN, harus dilaksanakan sebanyak mungkin oleh orang yang hidup di dunia fana ini". Selanjutnya, dikisahkan pula, ada seorang Bhikkhu yang bernama Yang Arya Maha Kassapa yang sangat mulia karena perbuatan perbuatan baiknya. Beliau sangat memperhatikan keadaan dan kehidupan orang miskin. Bilamana beliau pergi berkelana dan mengumpulkan dana, beliau selalu memberi kesempatan kepada fakir miskin, terlebih dahulu. Pada suatu hari diceritakan, Sakka atau Batara Indra, raja dari para dewa turun dari alam kedewaan, ke atas mayapada ini dengan menyamar sebagai tukang tenun yang miskin. Tukang tenun itu lalu menghampiri Yang Ariya Maha Kassapa dan memberikan dana kepada beliau. Hal ini diketahui oleh Sang Buddha dan beliau lalu memuji Yang Ariya Maha Kassapa, sambil menyatakan bahwa sampai Batara Indra turun ke atas mayapada ini, karena beliau sangat tertarik dengan kebajikan Yang Ariya Maha Kassapa.
       Selanjutnya Sang buddha bersabda : " Sesungguhnya tiada seberapa nilainya keharuman tagara dan kayu cendana. Keharuman orang yang BERPRIKEBAJIKAN membubung tinggi sampai ke alam dewa. Sesungguhnya sangat mulia KEBAJIKAN itu." Dari dua kisah yang singkat ini, jelaslah bagi kita semua bahwa kebajikan yang diperbuat, pasti akan memberikan kebahagian dan kesejahteraan.

Kesimpulan
Kebahagiaan adalah dambaan bagi setiap makhluk hidup dan tiada satupun, yang berkenan disakiti. Didalam sabda Nya, Sang Buddha menyabdakan bahwa kebahagiaan yang berhasil diraih bukanlah berkahan atau pemberian dari siapapun juga. Hanya dengan menimbun kebajikanlah, kebahagiaan itu baru bisa direalisasikan. Berdasarkan pada fakta kebenaran ini, marilah kebajikan diperbuat sedini mungkin agar jeratan derita, dapat terhindari. Agar kebajikan yang diperbuat, terarah dan terkontrol dengan baik, terdapat dua pedoman yg bisa dijadikan acuan, yaitu : "sati : perhatian" dan "sampajanna : kesadaran". Selalulah mengawali setiap kebajikan dengan "perhatian dan kesadaran" yang baik serta waspadalah dari setiap godaan atau gangguan, yang sifatnya menghancurkan. Manusia yang bersila (moral) akan senantiasa menambah kebajikannya, dengan bertambahnya usia yang dilalui dan setelah kematiannya, akan di tumimbal lahirkan di alam kebahagiaan "suggati", sesuai dengan kekuatan kebajikan yg dimiliki. Semoga dengan dimilikinya "sati dan sampajanna", kehadiran kita disaat yg tepat ini, dapatlah hendaknya sebagai motivator awal, bagi kebahagiaan semua makhluk. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu-sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu.., sadhu,….sadhu...




Kebijaksanaan
Terbekahilah Dikau Ibu
Perdukunan
Jangan Lari Dari Kenyataan
Terpujilah Dikau Pahlawanku
Jalan Kebahagiaan

Kebajikan
Jadilah Manusia Yang Berani Hidup
Kebaktian Dan Manfaatnya
Alam Neraka
Masih Terpenjarakah Kita
Index